Rabu, 22 Desember 2010

Perjalanan Naik/Turun Status Gunung Bromo

Probolinggo - Gunung Bromo di Probolinggo Jawa Timur dua pekan ini menyita perhatian. Bagaimana perjalanan status Bromo dari waspada, Siaga menjadi Awas hingga turun kembali ke level Siaga pada 6 Desember 2010, pukul 12.45 Wib.

Berdasarkan hasil pengamatan kegempaan Gunung Bromo yang dipantau dengan menggunakan seismograf PS-2 secara telemetri selama Oktober-Desember 2010 menunjukkan jumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal mengawali peningkatan aktivitas dari tanggal 8 Nopember 2010 kemudian diikuti oleh gempa tremor  dengan amplituda rata-rata 20 mm dan pada tanggal 23 Nopember 2010 pk. 08:00 WIB.

Status Waspada pun dinaikkan menjadi status Siaga setelah siang hari amplituda tremor semakin meningkat menjadi 25 mm. Dan pada hari yang sama, status Siaga dinaikkan lagi ke tingkat yang paling tinggi menjadi status Awas pukul 15:30 WIB. Dan setelah hasil pengamatan terjadi penurunan maka pada Senin (6/12/2010) pukul 12.45 Wib maka status Bromo turun menjadi siaga.

Ada empat faktor yang mempengaruhi penetapan status Gunung Bromo. "Kegempaan, visual, deformasi, dan potensi bahaya erupsi," jelas Kepala Bidang Mitigasi Bencana Geologi PVMBG Gede Suantika saat dihubungi detiksurabaya.com, Senin (6/12/2010).

Menurut Gede, data yang terekam dan telah dilansir situs Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Senin (6/12/2010) berdasarkan empat faktor tersebut adalah:

Kegempaan

Dalam periode 26-29 Nopember 2010 terjadi erupsi secara menerus yang dicirikan oleh amplituda tremor maksimum 32 mm. Gempa vulkanik yang terjadi selama erupsi sangat dangkal sehingga tidak berkaitan langsung dengan suplai energi di dalam kantong magma.

Sejak tanggal 29 November 2010, akitvitas kegempaan menunjukkan penurunan yang siginifikan bila dilihat dari amplituda tremor menerus dari maksimum 32 mm sebelumnya menjadi maksimum 5 mm. Kondisi ini berlangsung stabil sampai tanggal 6 Desember 2010.

Nilai pelepasan energi kegiatan erupsi di permukaan diukur menggunakan indeks RSAM (Realtime Seismic Amplitude Measurement). Indeks RSAM tertinggi pada status AWAS terjadi pada tanggal 23-29 November 2010. Kemudian sesudahnya mengalami penurunan  secara signifikan.

Visual

23 November dari pukul  08:00 WIB s/d 15:30 WIB,  pengamatan visual dalam status SIAGA menunjukan cuaca terang, angin sedang condong ke arah barat daya. Kolom erupsi menunjukan  warna asap putih tebal keabuan tekanan sedang, mencapai ketinggian 200-300 meter di atas bibir kawah.

26 s/d 29 November 2010, pengamatan visual dalam status AWAS tampak cuaca terang angin sedang condong ke arah barat daya. Kolom erupsi  menunjukan warna kehitaman, tekanan kuat mencapai ketinggian 600-800 meter di atas bibir kawah.

Sejak 30 November 2010, pengamatan visual dalam status AWAS memperlihatkan  cuaca terang, angin tenang condong kearah utara. Kolom erupsi menunjukan warna putih kelabu, tekanan sedang mencapai ketinggian 200-300 meter di atas bibir kawah.

Deformasi

Dari tanggal 25 November-05 Desember 2010 pengukuran deformasi EDM antara dua titik ukur POS-BAT dan POS-BRO menunjukan pemanjangan dan POS-KUR menunjukan pemendekan. Deformasi yang terjadi  sangat berkaitan dengan proses pengempisan tubuh Gunung Bromo atau pelepasan energi sudah mulai berkurang secara berarti.

Potensi Bahaya

Aktivitas letusan Bromo tahun 2004 berlangsung singkat dengan karakter letusan freatik dan ciri-ciri awal yang kurang jelas. Sedangkan karakter letusan tahun 2000 didominasi oleh kepulan abu yang bertekanan kuat yang menerus berhari-hari. Karakteristik aktivitas  Bromo pada keadaan normal atau waspada dicirikan oleh hembusan asap berwarna putih tipis tekanan lemah mencapai ketinggian 100 - 150 meter di atas bibir kawah.

Dari sejarah lerupsi tahun 1994, 1996, 2000, dan 2004 potensi ancaman produk erupsi  berupa lontaran lava pijar hanya jatuh di sekitar Kawah Bromo sedangkan penyebaran abu vulkanik bergantung pada arah dan kekuatan angin. Di lain pihak Kaldera Bromo (lautan pasir) dan Kawah Bromo sangat menarik wisatawan domestik
Aktivitas kegempaan  maupun visual erupsi  masih berfluktuatif dengan kecendrungan mengalami penurunan itulah yang akhirnya diputuskan Bromo turun ke level Siaga.

"Kita tetap memantau terus. Status bromo akan naik atau turun jika terjadi peningkatan/penurunan dipantau Tim Ahli Gunungapi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Pos Pengamatan Gunung Bromo Cemoro Lawang," terang Gede.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar